Hari ini tanggal 5 april 2011. Bangun pagi, yah biasa aku rapi-rapi kamar, mandi, shalat, sarapan, langsung berangkat sekolah. Sampai sekolah, biasa juga. Aku masuk+ucap salam, tanya-tanya PR, lalu keluar untuk sejenak menghirup udara segar sekolah dipagi hari. Begitu keluar dan menatap lapangan luas sekolah, yang kutemukan hanya 3 orang teman sekelas ku yang nampak seperti terdampar. Mereka bertindak segila mungkin di tengah lapangan. Aku hanya tertawa menikmati gilanya kelakuan mereka. Otomatis, aku awali hari dengan tertawa. Padahal aku tau awal hari dengan tertawa, sama dengan akhir hari dengan murung. Ya sudah lah, semua berlalu.
Bel masuk berbunyi. Seperti biasa pula, aku tidak lengsung menyikat buku dan membacanya. Tapi hanya berbincang dengan teman yang sering ku sebut dengan Kelebes. Sampai akhirnya Bu Ria guru IPS kami (murid 7-1) masuk dengan laptop dan buku yang selalu dia bawa setiap melakukan pembelajaran. Pelajaran berlangsung, hampir sepanjang pelajaran aku lebih banyak mengisinya dengan suara tertawa ku yang aku tahu itu membawa kemurungan. Dua bel sudah ku dengar. Bu Ria keluar dan digantikan oleh Bu Mariana guru Bhs. Indonesia. Lumayan aku menunggu penjelasan dengan kata-kata tertawa ku. Bu Mar -sebutan kami (murid 7-1) pada Bu Mariana- mengatakan kata-kata yang mungkin tidak hanya aku yang membencinya. Bu Mar mengawalinya dengan "Tugasnya...." Belum-belum aku sudah mengeluh dalam hati. Semakin Bu Mar mengatakannya semakin jauh aku mengeluh. Aku mulai merasakan bahwa inilah akibat dari aku tertawa tadi. Dengan hati yang tak sedap, aku mengerjakan tugas itu. Meskipun aku tahu itulah akibatnya, tapi aku masih saja mengisi waktu-waktuku dengan tertawa. Sampai akhirnya pelajaran berlalu alias selesai. Tapi aku masih belum mengumpulkan tugas itu. yah, sudah lah lupakan.
Pelajaran selanjutnya adalah TIK tapi entah mengapa, Pak Kusyanto tak datang untuk mengajar.
1 jam pelajaran sudah dilewati. Pelajaran berganti Agama. Pak Arief selalu datang tepat waktu, tak pernah terlambat. Pelajaran Pak Arief selalu diawali dengan salam. Menjelang salam itu selesai, aku merasa HP ku bergetar. Ku raih dan ku tengok -otomatis melihat kebawah-, ternyata dari kelas tetangga. Akupun berbisik tanpa sadar pada Agus -teman sebelahku- tentang bergetarnya Hp ku. Pak Arief sejenak melihat dan langsung bertanya padaku apa yang aku lakukan. Aku hanya menjawabnya dengan cengar-cengir mencoba mengalihkan perhatian agar Pak Arief tidak bertambah marah. Semenjak hal itu, semua terasa suram. Karena aku tahu itulah akibat aku tertawa seharian. Aku hanya murung hingga bel pulang berbunyi.
Selepas Pak Arief keluar dari kelas, aku mulai menemukan senyuman dan sifat ceriaku. Sampai akhirnya, kaki menuntunku hingga menuju bangku no 20 warnet 3d depan sekolahku. Sepanjang menulis posting inipun aku hanya murung karena teringat kejadian tadi. Hanya sejenak aku tersenyum pada orang lain. Karena aku tahu semakin aku bahagia, semakin aku murung.
Sebenarnya masih ada yang belum aku tulis.
Sekian dari saya, terima kasih karena sudah mau meluangkan waktu untuk membaca postingan yang ndak penting.